Menu

Blog Desa Batukarut

Blog ini dibuat atas inisiatif salah satu media informasi warga yang ada di wilayah Desa Batukarut, yaitu Radio Komunitas Kombas FM. Kepada para pembaca blog ini kami nantikan masukannya berupa kritik atau saran, serta partisipasinya dalam mengisi artikel/informasi-informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Batukarut khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, trims (dadang dharsana)
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 April 2012

Sasakala Desa Batukarut


Meletusnya Gunung Sunda

          Terkisah cerita di jaman dahulu bahwa wilayah Sunda keberadaannya tidak seperti masa kini.   Dikenal dengan nama “Daratan Sunda” yang keadaanya masih berbentuk hamparan, di ujung sebelah utara dibatasi lautan yang berbatasan dengan daratan Melayu, ujung Timur batasnya Nusa Ireng.  Konon di daratan sunda terdapat sebuah gunung yang sangat tinggi yang disebut “Gunung Sunda”.   Pada suatu waktu gunung tersebut meletus dan terjadi hanya dalam satu ledakan, Gunung yang begitu tinggi meletus dalam satu ledakan, tentunya mengakibatkan bencana alam yang dahsyat dan kerusakan berat, akibat terjadinya gunung meletus menimbulkan gempa, bahkan tanah banyak yang mengalami gempa tektonik, ombak laut banyak yang menyemburkan airnya ke daratan, tanah-tanah yang mengalami gempa tektonik menjadi terendam oleh air laut.   Sesudah gunung meletus keadaan alam menjadi berubah, yang tadinya daratan sunda yang berupa hamparan luas, saat itu kondisinya menjadi terpisah menjadi beberapa pulau, daerah yang menjadi pusat gunung meletus berubah menjadi satu pulau tersendiri yaitu “Nusa Lenggang”, yang kedua ada yang yang menyilang dan disebut “Nusa Junjang”, yang ketiga “Nusa Larang” dan yang keempat yaitu “Nusa Ireng”.   Di Nusa Lenggang bekas daerah gunung meletus menjadi kawah, air tergenang, bening dan dingin membentu suatu telaga, lama kelamaan pepohonan tumbuh kembali, makin lama makin besar pepohonan tersebut dan jadilah kembali hutan yang lebat, disana sini terdapat batu-batuan karena bekas daerah gunung meletus, dan saat itu belum terkisahkan ada manusia yang mendiami.

Seekor hewan aneh yang memiliki mata disekujurbadannya, berubah menjadi batu

          Terkisah cerita, datanglah rombongan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang dipimpin oleh seseorang, rombongan itu sebetulnya orang-orang yang akan mencari daerah untuk tempat tinggal tetap, dan akhirnya rombongan menuju ke pinggir talaga di sebelah selatan yang tidak curam tetapi melebar.   Selain dari pimpinan rombongan terdapat 3 orang yang dipercayai oleh pimpinan rombongan, ketiga orang tersebut diberi tugas untuk meneliti daerah itu, apakah cocok atau tidak untuk dijadikan tempat tinggal/pemukiman.  Adapun pertimbangannya antara lain : tidak jauh dari telaga, ada sungai kecil yang airnya mengalir ke talaga itu, dan tanahnya subur karena bekas gunung meletus.          Akhirnya diputuskan bahwa tempat itu layak untuk dijadikan pemukiman, lalu diadakan penebangan hutan, tanahnya diratakan agar kerasan tinggal disana, dan terjadilah penataan segalanya.
          Ketika sedang berjalan proses penebangan hutan, tidak heran banyak hewan liar besar dan kecil pada berhamburan ketakutan, menjauhi, dan mereka tidak menggangu manusia, maklumlah yang menebang hutan dipimpin oleh ahli bersemedi yang sering memohon kepada yang Maha Menyetujui agar selamat dan mahluk lainnya tidak merasa terganggu.   Tapi walau bagaimanapun juga yang namanya hutan tetap hutan dan sudah pasti ada hewan yang merasa terusik keberadaannya.  Terkisah ada salah satu hewan yang bandel serta amat perkasa, menurut cerita katanya sekeliling badanya memiliki mata.   Untuk menaklukan hewan aneh yang satu ini terpaksa oleh Pimpinan rombongan yang melawannya dan akhirnya hewan tersebut takluk, dan sesudah takluk hewan itu berjanji tidak akan mengganggu siapa-siapa lagi asalkan iapun tidak diganggu.   Dan terkisahkan hewan itu berubah menjadi sebuah “batu”, dan didaerah hewan buas dan perkasa tersebut keluar hulu air dan diberi nama Cijadi (Cijanten).   Dinamakan Cijadi karena jadi untuk pemukiman, tetapi kalau hewan buas dan  perkasa itu tidak bisa ditaklukkan, maka besar kemungkinan tempat itu batal (tidak jadi) dijadikan tempat pemukiman.  Khalayak ramai sekarang menyebutnya “Cijanten”.

Kisah nama Parahiangan

          Keadaan talaga tersebut sangat luas, pinggir talaga sebelah utara, timur dan barat keadaannya sangat curam, tetapi sebelah selatan melebar dan membentuk hamparan, pinggir talaga menurut kenyataan berupa gunung-gunung, yaitu Gunung Tangkuban Perahu, Bukit Unggul dan Gunung Patuha, di sebelah selatan yaitu Gunung Malabar (kemungkinan dari kata melebar),   sedangkan talaga tersebut dinamakan “Talaga Hiang”, menurut kepercayaan pada saat itu manusia yang telah meninggal, arwahnya “ngahiang” dan berkumpul di talaga tersebut.   Jadi dikatakan juga talaga tersebut tempat para hiang atau tempat mahluk halus, dan akhirnya di daerah itu disebut “Parahiangan”.

Kisah nama Cikabuyutan dan Tanjung Wangi

          Terkisah rombongan yang membuat pemukiman sudah menata lingkungan dan membangun rumah-rumah kecil yang manis, dalam menatanya begitu baik, permukaan tanah dihampar oleh batu-batuan.   Yang ditempati oleh Pimpinan rombongan ditata sedemikian teratur, bahkan sungai yang mengalir ke talaga dibelokkan sebagian agar melewati ke permukiman untuk kehidupan sehari-hari, dan sekarang terkenal dengan nama “Cikabuyutan”, sedangkan sungai yang dibelokkan berada di belakang permukiman diberi nama “Citalutug” (talutug artinya yang memperkokoh pemantar, sejenis patok bambu).   Diberi nama Citalutug bertujuan untuk memperkokoh permukiman jangan sampai goncang.
          Lama kelamaan masyarakat semakin berkembang sehingga mendorong untuk dibentuknya beberapa pemimpin yang mengatur rakyatnya dalam berbagai urusan, pemimpin disini oleh rakyatnya disebut “Petinggi yang dipercaya”, maka terbentuklah sebagai berikut :

  1. Embah Lurah; yang bertugas mencatat banyaknya penduduk yang ada, yang meninggal atau yang baru lahir, jadi Lurah disini pembimbing.
  2. Embah Wira Dikusumah; bertugas menjaga keamanan, baik keamanan dari luar maupun di dalam masyarakat.
  3. Embah Patra Kusumah; bertugas mengelola budaya
  4. Embah Aji; bertugas dibidang ilmu
  5. Embah Kalang Sumitra; bertugas mengelola bidang peradilan.

Para pemimpin atau petinggi tersebut suka mengajarkan ilmu agar dalam hidup sehari-hari mendapat keselamatan, kebahagiaan, dan kalau sudah waktunya berpulang meninggalkan dunia mendapat tempat disisiNya.   Kehidupan rukun, tidak pernah ada yang saling menuduh atau saling menyalahkan, sangat patuh kepada apa yang dikatakan Pemimpin, dan iman serta taqwa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.    Pada waktu itu tempat permukiman tersebut bisa juga dikatakan sebagai sebuah kerajaan kecil, orang tua menyebutnya tempat tersebut yaitu “Tanjung Wangi” tapi ada juga yang menyebut “Tunjung Wangi”.   Masyarakat pada saat itu hidupnya aman, tenteram, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, repeh rapih, hiru gusti waras abdi.
Kehidupan makin lama makin maju/berkembang sampai termasyur ke daerah-daerah yang jauh, akibat dari cara kepemimpinan yang memiliki ilmu yang tinggi serta bijaksana, demikian juga yang dipimpin memiliki rasa hormat yang tinggi kepada Pemimpinnya, karena hal itulah diberi nama “Tanjung Wangi”.   Tanjung Wangi hidup berkembang maju, serta perbuatannya bertingkah laku yang baik dan membawa harum pada dirinya.   Kalau Tanjung Wangi ini bagian dalam urusan batin, bunga tunjung adanya dalam kalbu (wangi=harum).   Jadi karena hati harum dalam perilaku dan perbuatan fisiknya yang baik yang dapat menjadi harum pada dirinya.

Putra Mahkota Kerajaan Banten berguru ke Tanjung Wangi

Terkisah di wilayah barat yaitu daerah Banten, ada suatu kerajaan kecil, Rajanya mempunyai putra lelaki yang akan menggantikan raja (Putra Mahkota).   Remaja yang dalam keadaan [buta tulang buta daging] menyadari bahwa dirinya kelak dikemudian hari akan menggantikan raja, mengelola negara, ia senantiasa mempersiapkan diri sejak dini mencari ilmu dan pengalaman, para pemilik ilmu didatanginya, bahkan sering berpuasa sambil bertapa di tempat yang dianggap berkeramat, tafakur dan bersemedi kepada Yang Mahasuci untuk mendapat ilham. 
Konon pada suatu waktu disaat ia sedang bersemedi terdengar ada suara gaib yang berisi petunjuk yaitu : “…seandainya kamu ingin mendapat ilmu yang terakhir, cepat kunjungi ke sebelah timur disisi Talaha Hiang, disana terdapat ilmu…”.   Setelah menerima ilham tersebut maka ia keluar dari pertapaannya, segera pulang menghadap ayahnya (seorang Raja) dan menceritakan kejadian tadi sekaligus memohon ijin Sang Raja, bahkan ia berjanji seandainya belum ditemukan ilmu dan belum memilikinya ia tidak akan pulang dulu.
Akhirnya pemuda tesebut mendapat restu ayahnya dan berangkat menuju ke sebelah timur, menuju Talaga Hiang.   Ditengah perjalanan istirahat karena lelah, merentangkan badannya dan akhirnya tertidur pulas.  
Terkisah di daerah Tanjung Wangi, petinggi di Tanjung Wangi mengetahui akan kedatangan seorang pemuda, karena ilmunya cukup tinggi, penglihatannya lebih waspada, lalu Ia mengkonsentrasikan diri, akhirnya terjadi pertemuan dengan seorang pemuda yang sedang tidur pulas tadi, dan diterimanya oleh pemuda Banten tersebut dalam bentuk mimpi, karena ia sedang tertidur pulas,dalam perbincangan kontak bathinnya sang pemuda mendapat petunjuk bahwa  “ seandainya kamu menginginkan mustika adanya di dalam talaga”.  Pemuda yang sedang tertidur pulas, akhirnya terperanjat dan terbangun sebab terngiang ditelinganya ada suatu yang membisikannya, lalu ia segera melakukan perjalanan ke sebelah timur dan sampailah ke pinggir talaga dimaksud.  Talaga tersebut pinggirnya rindang oleh pepohonan, bahkan tidak kelihatan ada pemukiman.  Penglihatan sang Pemuda tertuju pada talaga karena menurut berita, mustika ada di dalam telaga.   Tidak lama berselang disaat sang pemuda mengamati telaga, dari dalam talaga muncul dua hewan lalu berenang, dua hewan tersebut yaitu “Biul” (sejenis burung waliwis),  sudah tidak dipikirkan lagi, sang pemuda berkeyakinan bahwa inilah  mustika yang dicari, tidak dipikir panjang lagi, nafsu amarah dalam dirinya ingin secepatnya mendapatkan mustika, ia loncat dan berenang kedalam talaga mengejar 2 hewan tersebut, namun sayang ketika ia menghampirinya, hewan tersebut malah menyelam, kemudian sang pemuda menyelam mengejar hewan tersebut, tapi sayang ktika sudah dekat dan mau ditangkap, hewan tersebut malah muncul lagi ke atas permukaan air, begitulah berkali-kali kejadiannya dan akhirnya sang pemuda merasa lemas tidak berhasil mendapatkannya, akhirnya naik ke daratan, hatinya kecewa belum terlaksana yang diinginkannya.   Sambil merenung munculah akal akan membuat jala untuk menangkap kedua hewan tadi.  Sang pemuda bergegas mencari rotan yang ada disekeliling talaga, tidak sulit mendapatkannya karena dihutan rotan banyak, lalu menarik rotan (areuy) dan dibuatlah jala, sedangkan untuk bebannya diambilkan batu-batu yang berserakan, karena bekas gunung meletus.  Setelah selesai membuat jala, Biul yang sedang berenang langsung disergap, kata hatinya hewan itu pasti dapat, begitu ditarik ternyata tidak didapatkannya, demikian saja kerjanya sang pemuda tersebut berusaha menangkap hewan Biul tersebut, sampai air telaga kotor karena [dikubek], bahkan biul juga menghilang.  Nafsu amarahnya tak tertahankan merasa dipermainkan oleh hewan kecil, “Sebetulnya saya cukup memiliki ilmu, apalagi mantra-mantra dan belum mengenal darah diri sendiri, artinya belum ada yang mengalahkannya”.  Nafsu amarah tak terelakkan lupa akan dirinya, jala yang rusak akhirnya dilemparkannya, ada yang dekat jatuhya, ada yang agak jauh jatuhnya, dia merasa lemas dan tidak berdaya sampai akhirnya ia tertidur.

Meragukan kesaktiannya Sang Guru ditantang Calon Muridnya

Setelah terbangun dari tidurnya tersinari oleh matahari, dan matanya melek, lalu ia melihat ke sekeliling, ternyata ada bangunan kecil tapi manis, merasa bahagia ingin bertanya tentang pemukiman itu, lalu ia menuju suatu rumah.   Setibanya di depan rumah [golodog] ia mengucapkan salam,  dan ternyata ada jawaban dari penghuni rumah kecil tersebut serta mempersilahkan kepada tamunya, sang pribumi begitu ramah bahkan ia menyuguhkan air dan makanan, dan terjalinla perbincangan diantara mereka. Setelah lama terjadinya perbincangan antara tamu dan pribumi, akhirnya tamu berterus terang ingin berguru, mencari ilmu terakhir, ingin tidak ada yang mengalahkan lagi oleh yang lain, tetapi jawaban pribumi, jangankan saya memiliki ilmu terakhir, jadi orang bodohpun tidak termasuk [teu bodo-bodo acan], karena lahir ke dunia ini sebetulnya karena Yang Maha Kuasa serta harus pandai kembali lagi, sendainya meninggal, menghadapNya.  Sepertinya jawaban pribumi kurang memuaskan tamu, maka dari itu tamu tetap menyatakan keinginannya untuk berguru, pribumipun tetap menolak karena ia merasa tidak mempunyai ilmu untuk diajarkan, tetepi karena tamu terus memaksa akhirnya pribumi mengalah dan akhirnya menerima, kalau tetap ingin berguru akan diberi ilmu seadanya, tamu merasa bahagia diterima menjadi murid, tetapi dalam hatinya muncul niat yang kurang baik, dalam pikirannya : “mengapa saya ingin berguru kepada orang yang belum tentu, bahkan saya ini sudah cukup berilmu, saya tidak akan mau menerima dulu ilmu dari dia, sebelum saya mencoba kesaktiannya”.  Akhirnya yang akan memberi ilmu yang sudah tua renta itu ditantang untuk berkelahi dengan orang yang masih muda dan kekar [buta tulang buta daging].   Dalam benak Petinggi, seandainya tidak dipenuhi betapa ia akan merusaknya, tapi kalau dituruti keadaanya ya begini.  Akhirnya Sang Petinggi memohon kepada Yang Maha Kuasa semoga diberi keselamatan.   Ringkas cerita ketika terjadi perkelahian antar pribumi dengan tamu pada akhirnya tamu terdesak, seterusnya ia menjadi murid di perguruan Tanjung Wangi.  Bahkan karena terlalu lama berguru akhirnya tamupun mendapat ilmu yang terakhir dari Sang Petinggi.  Untuk melaksanakan kehidupan di dunia, berlangsung dalam keadaan selamat dan berpulang ke Rahmatullah (meninggal dunia) ada dalam kebahagian di alam akherat, dapat berpulang dan kembali kepadaNya.  Setelah bertahun-tahun berguru, maka akhirnya sang pemuda itu berpamitan kepada gurunya akan pulang menemui dulu ayah dan ibunya di wilayah barat, dan berjanji akan kembali lagi, ingin hidup bersama dengan yang jadi gurunya.

Kisah Lebakwangi dan Batukarut
  
Setelah sampai kepada ibu dan bapaknya di wilayah barat, ia menyampaikan telah berhasil mendapatkan ilmu untuk keselamatan di alam dunia dan akhirat, semoga tidak kecewa, tersinggung perasaan yang menjadi orang tua, saya akan kembali lagi kepada yang menjadi guru dan akan menetap disana.  Setelah mendapat ijin dari kedua orang tuanya, seorang pemuda itu kembali lagi ke tempat perguruannya Tanjung Wangi.   Karena berjiwa besar dan berilmu tinggi pemuda itu mendapat kepercayaan dari Petinggi untuk menangani alat musik pusaka, dan mendapat gelar “Embah Bandong”. 
Banyak hikmah yang didapat oleh pemuda tersebut ketika ia sedang berusaha mendapatkan mustika.   Bila ingin mendapatkan sesuatu hal yang baik tidak mudah, tetapi sering mendapat ujian dan cobaan, serta bergantung kepada mampu atau tidaknya,  mungkin nafsu yang menggoda dirinya, akibat nafsunya akhirnya jala dilemparkan.
Konon bekas jala yang dilemparnya waktu dulu, ada diantaranya yang jatuh di dekatnya, berantakan dan ada batu jala yang terikat oleh [areuy].  Dan di tempat itulah sekarang daerah tersebut dikenal dengan nama “Batukarut”.
Lama kelamaan petinggi dan para nenek moyang meninggal dunia, namun sebelumnya mereka membuat wasiat, “setelah kami tiada (wafat) tempat atau pemukiman ini, yang di sebut Tanjung Wangi atau Tunjung Wangi namanya harus diganti”.  Kesatu “Lebakwangi” karena letaknya sedikit kebawah (ka lebak), kedua “Batukarut” yang tandanya ada batu yang dikarut oleh areuy.
 Makna Lebakwangi ini ibarat rohani, berada dibawah kalbu bukan diatas didalam akal, dan selamanya tiada pernah mendorong ke jalan salah, selamanya mendorong ke jalan yang baik seperti perintah Yang Maha Kuasa, sehingga mengakibatkan harum bagi dirinya,  sedangkan Batukarut tampak bedanya, bagaikan jasmani, dalam dirinya ada pendorong  ke jalan salah, yaitu nafsu, walau bagaimanapun kerasnya atau bandelnya nafsu jangan sampai terlontar, sebab kalau terlontar melalui mulut akan berakibat tidak enak didengarnya.  Kalau dalam perilaku maka perbuatannya yang salah, peribahasa mengatakan gejolak jiwa berakibat penyesalan jasad yang menanggung resiko.  Jadi walau bagaimanapun kerasnya amarah nafsu seperti batu, supaya bisa diikat jangan sampai terlontar dari diri kita. 
Setelah para nenek moyang wafat kemudian dikuburkan di “Gunung Alit” atau “Gunung Andaya Sakti”.  Terdapat 6 makam yang dikuburkan disana, yaitu :

1.     Makam Embah Lurah, terletak paling bawah
2.     Makam Embah Wira Dikusumah
3.     Makam Embah Patra Kusumah, berada ditengah-tengah
4.     Makam Embah Aji
5.     Makam Embah Kalanga Sumitra
6.     Makam Embah Manggung Jaya Dikusumah, yang terletak dipuncak gunung.

Menurut para orang tua bekas rumahnya sekarang disebut “Kabuyutan, disana didirikan rumah kecil yang dipakai menyimpan benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang, seperti :

1.     Sumbul, yang digantungkan
2.     Gobang, keris, pedang, badi, kujang

Perkakas tersebut masing-masing pakai [sarangka] serta dibungkus oleh kain putih, kafan tujuh rangkap, dan memakai kapas, memakai bunga rampai, setelah digulung diikat antara ujung dan ujung dan ditengah-tengah, tak beda seperti membungkus mayat.  Disimpannya didalam kamar rumah kecil tersebut, setiap tanggal 12 Maulud, suka diadakan upacara muludan, sekaligus melestarikan atau memelihara benda, baik yang di dalam rumah kecil atau alat musik pusaka Embah Bandong yang disimpan di rumah masyarakat yang dipercaya untuk menyimpan benda tersebut.  Didalam upacara dihadiri oleh warga masyarakat Batukarut, Lebakwangi dan sekitarnya, baik yang jauh maupun yang dekat yaitu handai taulan Lebakwangi, Batukarut, demikian pula dari Pemerintahan Desa, Kecamatan, Kabupaten dan dari Provinsi juga dari Dinas Kebudayaan Tingkat Provinsi.


Ditulis kembali oleh : Dadang Dharsana
Sumber :
Hasil wawancara dengan H. Uko Rukanda (alm)
Pada tanggal 15 November 1997 oleh Drajat Sudrajat, SPd
Pada saat penyusunan skripsi S1.

Profil Kepala Desa Batukarut




IDENTITAS DIRI

1.
Nama Lengkap
CUCU ALI HIDAYAT
2.
Tempat, tanggal lahir
Bandung, 05 Agustus 1958
3.
Agama
Islam
4.
Pendidikan terakhir
SLTA
5.
Status Perkawinan
Kawin
6.
Pekerjaan
Kepala Desa Batukarut 2006-2012
7.
Alamat
Kp. Cigentur RT 01/RW 10



DATA KELUARGA

1.
Nama istri
Tati Daningrum, SPd
2.
Jumlah Anak
2 (dua)
3.
Nama Ayah/Ibu kandung
Waab Suradinata / Hj. Iwat
4.
Jumlah saudara kandung
8 (delapan)



DATA KEORGANISASIAN
1.
AMPI
1980
2.
Karang Taruna
1983



Rabu, 11 April 2012

Profil Budaya Desa


ADAT ISTIADAT DESA


1.        Adat Yang Berkaitan Dengan Siklus Hidup

a)  Kelahiran
Dalam menjelang kelahiran anak ada beberapa adat yang biasa dilaksanakan dalam  menjelang proses kelahiran diantaranya :
-   Syukuran Empat Bulan yaitu mensyukuri karunia yang kuasa karena janin yang terkandung dalam kandungan ibu di tiupkan Ruh atau MINTONI dalam kandungan(di Beri Nyawa)
- Tujuh Bulan(Tujuh sasihan) yaitu tradisi/adat yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat dalam kebiasaan turun temurun guna mengetahui anak sebelum lahir yang dilakukan diantaranya :
·    Membelah Kelapa Kuning guna melihat anak tersebut akan lahir Laki-laki atau Perempuan dengan menggunakan golok sambil kelapa tersebut di atrik menggunakan seutas tali.
·  Mandi Belut adalah symbol untuk memperlancar kelahiran(supaya lungsur langsar)
·      Membuat Rujak dari 7 jenis buah buahan yaitu symbol agar anak lahir tersebut mempunyai sifat yang manis,asin dan sebagainya yang terkandung dalam buah tersebut.
·      Menyediakan Umbi-umbian dari 7 jenis umbi yaitu symbol dari hasil dari bumi yang dapat kita makan dan kita mamfaatkan.   

Dan sesudah kelahiran adat yang iasa dilakukan yaitu :
-    Puput Puser yaitu syukuran untuk mensyukuri bahwa anak tersebut telah lepas tali ari dari perut bayi yang ada diluar.
-  Aqiqah(Ekah) yaitu syukuran untuk mensyukuri dengan kelahiran anak yang dilaksanakan dari usia 7 hari s/d 40 hari dan di syukuri dengan memotong kambing/domba dengan jumlah yang disesuaikan dengan jenis kelamin akan tersebut apabila  Laki-laki memotong 2 ekor kambing/domba dan apabila perempuan memotong 1 ekor kambing/domba.
-   Turun Taneuh (awal mula anak bisa berjalan) yaitu syukuran dimana anak tersebut baru bisa berjalan.

b)   Sunatan
Sebelum pelaksanaan Khitanan ada beberapa tata cara atau adat yang biasa dilakukan diantaranya :
-       Nyekar  kepada keluarga yang sudah meninggal dunia
-    Turun mandi (Siram Kembang)yaitu mandi sehari sebelum anak tersebut di khitanan agar anak tersebut pas waktu dikhitan tidak terasa sakit dan anak tersebut supaya kelihatan segar.

c)  Pernikahan
Dalam pelaksanaan pernikahan dalam budaya kita ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan sebelum dan sesudah pernikahan diantaranya :
-       Nyekar  kepada keluarga yang sudah meninggal dunia
-    Ngeyeuk seureh yaitu tradisi sehari sebelum prosesi akad nikah yang bertujuan memperkenalkan keluarga kedua belah pihak dan memberikan wejangan bagi kedua calon mempelai dalam mengarungi kehidupan berumah tangga dengan di simbolkan beberapa barang.
-   Munjungan yaitu tradisi yang dilaksanakan setelah selesai pernikahan dan biasa dilakukan  sehari sesudah selesai prosesi pernikahan dengan mengunjungi keluarga pihak laki-laki dengn membawa makanan dan sebagainya guna lebih mempererat tali persaudaraan.

d)   Kematian
Kebiasaan yang dilakukan setelah prosesi pemakanan dilakukan diantaranya
-       Nyusur Tanah yaitu mengucapkan terima kasih pihak keluarga kepada orang-orang yang telah membantu mengurus jenazah dan dilakukan setelah selesai penguburan diadakan dirumah duka dengan membacakan doa bersama dan dikasih makan.
-       Tahlilan dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut.
-   Matang puluh(40 hari kematian) tahlilan yang dilaksanakan  mengenang 40 hari kematian  dan mengirim berbagai makanan dan pakaian kepada orang yang telah mengurus jenazah.
-  Natus (100 hari kematian) tahlilan yang dilaksanakan  mengenang 100 hari kematian dan mengirim berbagai makanan dan pakaian kepada orang yang telah mengurus jenazah.

2.       Adat Tentang Sopan Santun
Adat tentang sopan santun yang biasa dilakukan oleh masyarakan dan kebiasaan yang diajarkan orang tua kepada anak-anaknya dimana orang yang muda harus lebih hormat kepada yang lebih muda sebaliknya yang yang tua harus menghargai yang lebih muda.kalau dalam bahasa sunda yaitu “Hormat Kasaluhureun,Ngajen Kasasama,Nyaah Kasahandapeun”

3.       Adat Pergaulan(Muda-mudi)
Pergaulan muda-mudi yang biasa dilakukan oleh kalangan muda pada umumnya dilakukan seperti pada umumnya pemuda sekarang dan seperti yang dilakukan di daerah lainnya.


4.        Adat Berkaitan Dengan Pengelolaan Sumberdaya Alam
Adat dalam pengelolan lingkungan dimana ada larangan kepada masyarakat untuk menebang pohon harus berusia diatas orang yang menebangnya dan larangan orang tua dulu dimana ada pohon atau yang berhubungan dengan pelestarian alam dimana jangan diganggu maka orang tua cukup mengatakan “Pamali” maka dapat dituruti oleh anak-anaknya.

5.        Tabu/Pantangan
Ada beberapa pantangan atau tabu yang tidak boleh dilaksanakan menurut adat atau budaya yang biasa dilakukan diantaranya :
o Ada beberapa larangan melaksanakan hajatan di bulan safar,reuwah,hapit dan mulud(sebelum tanggal 10 mulud)
o     Dilarang memelihara seekor kuda yang berbulu hawuk
o     Harus melaksanakan hajat buruan pada bulan muharam sebelum tanggal 10
o     Jangan jual beli di hari larangan bulan yang telah ditetapkan di setiap bulannya.
o     Jangan menikah di bulan safar
o     Yang lahir di bulan safar harus di mengadakan syukuran di setiap bulan safar
o     Jangan memperbaiki atau membangun rumah sebelum tanggal 10 mulud
o     Yang punya barang pusaka harus di bersihkan(di Muludkan) pada tanggal 12-14 mulud
Dan masih banyak lagi tabu atau pantangan orang tua kita waktu dulu

6.                              Petatah Petitih,Pantun

Ada beberapa pepatah petitih orang tua terdahulu didalam kehidupan diantaranya :
o   Tong diuk dina bangbarung bisi nontot jodo artinya jangan duduk di pintu agar tidak jauh dari jodoh pribahasa tersebut memberikan pantangan kepada anak-anak supaya jangan duduk di pintu yang akan mengganggu jalan masuk.
o    Tong heheotan di imah pamali bisi kosong pabeasan artinya jangan bersiul dirumah agar tempat beras di dalam rumah tidak kosong dan selalu berisi pribahasa tersebut memberikan pantangan kepada anak-anak supaya jangan berisul karena berisik dan bukan pada tempatnya.
o  Tong mandi saeunggeus dahar bisi lesang kuras artinya jangan langsung mandi setelah makan agar rezeki tidak cepat habis pribahasa tersebut memberikan pantangan kepada anak-anak supaya jangan kalau sudah makan langsung mandi akan mengakibatkan sakit.
o  Tong sare sareupna pamali artinya jangan tidur menjelang magrib pribahasa tersebut memberikan pantangan kepada anak-anak supaya jangan tidur sebelum shalat maghrib
o     Ulah hudang kapiheulaan kongkorongok hayam bisi rezeki dipiheulaan batur artinya bangun jangan terdahuli oleh suara ayam berkokok supaya rezeki tidak diambil orang lain pribahasa tersebut memberikan pantangan kepada anak-anak supaya bangun lebih subuh untuk giat mencari rezeki.
Masih banyak lagi hal-hal yang yang sering dilakukan oleh orang tua kita terdahulu untuk mendidik anaknya dengan cara petatah dan petiitih.


7.       Upacara/Ritual
Upacara atau ritual yang masih bertahan hingga kini di masyarakat Batukarut yaitu selalu dilaksanakan acara Ritual Muludan setiap tanggal 10 mulud dengan cara membersikan alat-alat pusaka yang terdapat di Bumi Alit Kabuyutan Peninggalan jaman dulu dan alat pusaka yang dimiliki masyarakat dari tanggal 12 s/d 14 Mulud.

8.        Permainan Tradisional
Ada beberapa permainan tradisional yang sering dilakukan anak-anak Batukarut dan sekitarnya diantaranya :
o        Sondah yaitu Permainan anak perempuan yang lebih kepada ketangkasan dan olah raga
o       Gatrik yaitu permainan anak laki-laki yang menggunakan sebilah bambu panjang dan pendek
o       Galah yaitu permainan ketangkasan dalam menjaga lawan tidak dapat masuk atau lewat
o          Sorodot Gaplok yaitu permainan anak laki-laki mengandalkan keterampilan dalam mengayunkan barang yang dari batu atau genting yang dibentuk lingkaran dan dilempar menggunakan kaki supaya mengenai batu atau genting lawan.
o   Ucing sumput yaitu permainan bersembunyi dan sdi cari oleh yang menjadi kucingnya.
o       Sasapian yaitu sejenis permainan yang mengandalkan kekuatan otot karena saling beradu satu sama lainnya.
o          Congkak yaitu  permainan anak perempuan yang menggunakan alat dari kayu yang dibentuk dan butiran batu yang di bagi-bagi
o          Loncat tinggi yaitu permainan anak perempuan yang menggunakan tali dari karet yang diloncati
o          Keser yaitu permainan seperti sorodot gaplok namun cenderung di geser.
o    Beklen yaitu permainan anak perempuan yang menggunakan bola karet dengan kerang yang dibulak-balik.
Dan banyak lagi permainan yang dilakukan oleh anak-anak jaman dulu.

9.       Pakaian Adat
Pakaian adat yang ada umumnya sama dengan adat sunda lainnya seperti untuk pakaian perempuan mengenakan Kebaya dan untuk laki-laki menggunakan kampret atau pangsi.

10.   Rumah Adat
Rumah adat yang ada Cuma yang terdapat di dalam Situs Bumi Alit Kabuyutan tempat yang di sucikan untuk menaruh benda – benda pusaka.

11.    Makanan Khas Tradisional
Ada beberapa makanan tradisional yang biasa di olsah oleh masyarakat Batukarut diantaranya :
o     Getuk lindri yaitu makanan dari Singkong
o     Naga Sari yaitu makanan dari tepung beras yang dibungkus daun pisang
o  Ali Agrem yaitu makanan dari tepung beras yang dicampur dengan gula merah kemudian di goring
o     Putri noong yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras yang dibubuhi pisang
o    Bugis yaitu makanan yang terbuat dari tepung ketan tang di beri gula aren kemudian dibungkus menggunakan daun pisang
o Katimus yaitu makanan yang terbuat dari singkong yang dihaluskan kemudian dikukus
o     Lubi-lubi yaitu makanan yang terbuat dari ubi jalar yang ditumbuk kemudian di beri gula merah dan di goring dengan cara di bulat-bulat.
o   Ciu yaitu makanan yang terbuat dari tepung aci di campur dengan pisang yang di lebur kemudian dibungkus dengan daun pisang dan di kukus.
o  Burayot yaitu makanan yang terbuat dari tepung padi yang dicampur dengan gula merah kemudian di goreng kemudian setelah matang di jepit menggunakan bambu yang sudah dibentuk kaya jepitan
o     Ulen yaitu makanan dari beras ketan dicampur dengan kelapa
o     Dawet yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras yang di kukus.
       Dan masih banyak lagi makanan yang sering dibuat dan dijadikan makanan sehari-hari


12.    Obat Tradisional
Ada berbagai macam obat-obat tradisional yang digunakan untuk mengobati suatu penyakit baik yang berasal dari tumbuhan atau dari minyak diantaranya :
o    Gegecok yaitu obat yang terbuat dari minyak tanah,minyak kelapa,bawang merah yang di tumbuk yang berkahasiat untuk mengobati anak panas dan sakit perut.
o Kiurat yaitu sejenis tumbuhan yang berkhasiat untuk menyembuhkan bengkak,keseleo,terkilir urat yng penggunaannya di campur dengan beras d tumbuk dan dioleskan.
o          Daun babadotan yang berkhasiat untuk penyembuhan luka pada kulit.
o          Daun kirinyuh yang berkhasiat untuk penyembuhan penyakit maag.
o          Daun sirih dan korejat berkhasiat untuk membersihkan mata.
o   Abu Gosok dan Garam berkhasiat untuk penyakit pengkak dengan cara digodog dengan air panas kemudian di rendam yang bengkaknya.
o      Daun Katuk berkhasiat untuk mengobati sariawan dan panas dalam dengan cara di tumbuk dicampur dengan air kemudian diminum.
o          Daun Edi untuk memperlancar kencing dan mengobati sakit pinggang.
o  Leuhang yaitu penyembuhan penyakit dengan menggunakan berbagai jenis daun-daunan yang direbus diantaranya yaitu daun manalika,daun sirih,daun salam,akar jambe,akar kelapa,daun jeruk,akar papaya.
o          Getah pohon jarak yang berguna untuk menyembuhkan sakit gigi.
o          Air Kencing Sendiri bekhasiat untuk mengobati jerawat.
o          Air Susu Ibu (ASI) berkhasiat untuk menyembuhkan sakit mata pada anak-anak.
Dan banyak lagi obat-obat tradisional yang sering dibuat untuk mengurangi dan menyembuhkan berbagai penyakit



SISTEM KEMASYARAKATAN

1.        Pemerintahan/Organisasi Kemasyarakatan
a)   Struktur Lembaga Adat Sunda
DI Desa Batukarut telah terbentuk suatu lembaga adat sunda yang telah ada sejak dulu dan sampai saat ini masih aktif keberadaannya dengan susunan sbb:


SUSUNAN PENGURUS SASAKA WARUGA PUSAKA
LEBAKWANGI – BATUKARUT
2010-2013

I.   Pelindung                             :     Kepala Desa Batukarut
                                                          Kepala Desa Lebakwangi
II.  Ais Pangampih                   :    Ibu Hj.Mamih Jueningsih
                                                         Bp.Drs.H.M.A.II Danya
                                                         Bp.H.Oman Rohman
                                                         Bp.H.Sutia
                                                         Bp.Drs.H.Tatang Tarmana
                                                         Bp.Andi Palmini
III. Pangurus Sadidinten
       Pupuhu                                 :    Bp.Ir.Wawan Suherman
       Wakil Pupuhu I                   :    Bp.Tarlan Somantri
       Wakil Pupuhu 2                   :    Bp.Deden Taufik,SE
       Giring Serat                         :    Bp.Aip Rosidi
       Wakil giring Serat               :    Bp.Drs.Endang Tarmana
       Panata Harta I                    :    Bp.Drs.H.Yan Djuarsa,M.Si
       Panata Harta II                  :    Bp.Drs.Deden Rucita,MM
       Pembantu Umum               :    Bp.Jeje
                                                          Bp.Agus
   Bp.Dedi Sukarya
   Bp.Alit Witarsa
   Bp.Uden Duparya
   Bp.Ade Warman
   Bp.Cecep Mudiana,S.Ip
   Bp.Dadan
   Bp.Entang Hidayat
     Juru Kunci                             :   Bp.H.Enggin
                                              Bp.Anang
     Juru Simpen Gamelan         :   Bp.Ayib
                                             Bp.Uun
     Seksi-seksi : Terlampir


b)       Tugas,Fungsi dan Wewenang
       Tugas fungsi dan wewenang lembaga adat sunda yaitu mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan,tatacara dalam setiap waktu dan pelaksanaan setiap ritual/upacara buhun vdiantaranya dalam pelaksanaan kegiatan Muludan dan ritual pembersihan benda-benda pusaka yang terdapat di dalam Situs Bumi Alit Kabuyutan,dan kegiatan-kegiatan lain dalam pelaksanaan yang berhubungan dengan adat istiadat budaya sunda khususnya mengenai kegiatan di Sasaka Waruga Pusaka Kabuyutan


c)       Sumber Penghasilan Lembaga Adat
      Pada dasarnya Lembaga adat Sunda SASAKA WARUGA PUSAKA tidak mempunyai sumber pendapatan tetap adafun kegiatan yang dilaksanakan anggarannya bersumber dari bantuan pemerintah maufun dari Swadaya masyarakat.

2.        Hukum Adat/Norma Dan Sanksi
     Hukum adat pada dasarnya tidak terlalu menekan bahkan condong untuk sekarang ini hukum mengikuti hukum Negara dimana setiap orang yang melanggar adat hanya mendapatkan sangsi social dari masyarakat sedangkan yang melanggar adat berupat penggaguan situs budaya itu sepenuhnya di serahkan kepada hukum perundang-undangan yang berlaku.


3.        S 3.    Sistim Nilai
a)        Adat Yang Berkaitan Dengan Gotong Royong
   Adat yang masih kental dan masih terasa dan sering dilaksanakan dari segi kegotongroyongan yaitu apabila akan menyambut acar Muludan sering dilaksanakan kerja bakti pembersihan situs dan pembersihan ke gunung Alit tempat dimana leluhur Batukarut-Lebakwangi di makamkan,dan juga menjelang bulan suci Ramadhan.

b)       Adat Yang Berkaitan Dengan Musyawarah
      Musyawarah sering dilaksanakan menjelang kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan di Lembaga adat sunda seperti persiapan menjelang muludan sampai dengan selesainya kegiatan tersebut.

c)        Adat Yang Berkaitan Dengan Keadilan,Kejujuran dan Kesederhanaan
       Nuansa keadilan, kejujuran dan kesederhanaan sangat terasa terliha dari jamuan dan tidak membeda-bedakan status ekonomi semua menyatu makan bersama dan tidak ada kesenjangan social di kalangan masyarakat.



SISTEM KESENIAN

1.        Kesenian Tradisional
     Berbagai jenis kesenian yang terdapat di tatar sunda merupakan budaya yang kental dengan kehidupan masyarakat kita tetapi sampai saat ini kesenian merupakan ciri dari budaya itu sendiri dan kesenian tradisional yang masih eksis di wilayah Batukarut diantaranya :
a)       Tarian
       Berbagai jenis tari tradisional yang ada dan keberadaannya masih ada yaitu:
o         Jaipongan
o         Ketuk Tilu
o         Srimpit
o         Ngayuban
o         Penca Silat
b)       Musik/Suara
       Berbagai jenis musik tradisional yang ada dan keberadaannya masih ada yaitu:
o         Gondang
o         Degung
o         Angklung
o         Calung
o         Reog
o         Buncis (Reog+Angklung)
o         Cianjuran
o         Kacapi Suling
o         Jibrut(jenis music yang dihasilkan dari anggota tubuh manusia itu sendri) sempat ada dan sekrang keberadaannya hamper lenyap seiring dengan orang yang memainkannya sudah pada meninggal.

c)        Ukiran/Pahat
     Ukiran dan pahat yang ada di masyarakat Batukarut hanya sebatas ukiran untuk kebutuhan sendiri dan tidak di perjaul belikan seperti ukiran hiasan dinding dan alat rumah tangga.

2.                  2.   Kerajinan Masyarakat
Berbagai kerajinan tangan yang dihasilkan oleh masyarakat Batukarut yang pengolahannya secara tradisional diantanranya yaitu pengrajin alat Rumah tangga (Seeng) yang masih di tempa menggunakan palu yang terdapat di Kp.Cihamerang Desa Batukarut,juga pembuat bakul dan alainnya yang terdapat di Kp.Talun Rw.08 Desa Batukarut.


SISTEM BAHASA DAN AGAMA

1.        Bahasa Tulisan dan Lisan (Jenis dan Dialek)
Bahasa tullisan yang ada di lingkungan lembaga adat sebagian sudah menggunakan tulisan latin dan tetapi dalam benda-benda pusaka masih juga terdapat tulisan sunda Buhun sedangkan untuk bahasa yang digunakan sehari hari yaitu bahasa Sunda yang wajib digunakan dalam setiap kegiatanyang berhubungan dengan kegiatan tradisional.
 
2.        Agama/Kepercayaan Yang Dianut Masyarakat
Seiring dengan perkembangan jaman dan berbagai budaya yang masuk tidak luput dari pengaruh kepercayaan masyarakat dimana agama yang dianut sebagian besar warga batukarut beragama islam dan bagi kalangan lembaga adat sunda menganut agama islam yang masih kental dengan budaya buhun yang sampai saat ini masih melekat guna pelestariian adat budaya buhun.
 
3.        Kitab
Meskipun adat dan budaya buhun yang masih melekat dan kental dengan budaya buhun tetap Al-Quran menjadi kitab satu-satunya pegangan warga kami dan kalangan lembaga adat sunda.


PERMASALAN DAN USULAN

Keaslian(orisinalitas) kepribadian bangsa yang terkandung pada seni dan budaya masa lampau lebih tampak dari pada yang timbul pada masa selanjutnya,zaman dulu percampuran antar bangsa  masih sulit atau belum ada sama sekali oleh karena itu seni yang diciptakan kemudian baik sebagai perkembangan model atau ciptaan lainnya yang berakar dari seni masa lampau dapat terjamin kemurniannya hal semacam ini dapat dikatakan mempertahankan jati diri bangsa.
Permasalan sekarang ini yang sering muncul dalam pelestarian budaya dan adat istiadat yaitu kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai pentingnya memelihara dan melestarikan budaya dan adat istiadat sunda agar generasi yang akan datang memahami keanekaragaman budaya kita sehingga generasi yang sekarang ini juga dapat merasa memiliki dan menyayangi akan budaya dan adat istiadat kita,permasalahan lain yang timbul yaitu kurangnya kepedul;iabn dari orang tua itu sendiri untuk mengajarkan kepada anak-anaknya mengenai budaya dan adat istiadat kita dan juga keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung dalam hal pelestarian budaya sunda.
Agar budaya dan adat istiadat kita dapat dinikmati sampai generasi yang akan datang terasa pemerintah harusnya berperan aktif melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengajarkan pendidikan kebudayaan sejak dini kepada kalangan anak usia sekolah dan tidak menutup kemungkinan dalam pengembangan kebudayaan tersebut dibarengi dengan pengadaan sarana dan prasarana yang memudahkan kita dalam menggali potensi tentang budaya kita.

(sumber : buku profil budaya desa batukarut, 2012)